Memahami Indonesia Lewat Musik Non Tradisional

NEWSWIRE.ID | Jumat, 12 Januari 2018

Rijswijk, Belanda: “The good thing about music, is that when it hits you, you feel no pain,” demikian Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, mengutip Bob Marley dalam pembukaan pergelaran Jazzindo Et Al. New Year’s Concert, yang diselenggarakan Rabu malam, 10 Januari 2018, di Ruang Davis Cup - Event Plaza, di Rijswijk, Negeri Belanda.

 

Musik adalah bahasa universal. Dengan musik, kita dapat berkomunikasi melintasi batas-batas budaya dan bahasa. Hal itu terbukti dari sambutan tepuk tangan meriah warga Belanda meskipun tidak memahami lirik lagu “Inikah Cinta” yang ditampilkan oleh Harry Mantong, diiringi Potatone Band. Harry Mantong, yang pada 2005 berhasil menembus lima besar di ajang pencarian bakat Indonesian Idol, turut meramaikan acara Jazzindo Et Al. New Year’s Concert. Ia tampil dengan diiringi oleh Potatone Band, yang beranggotakan para mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di Belanda. Selain Harry dan Potatone Band, konser musik ini juga menampilkan kelompok musik dari Belanda beraliran jazz/world music, Boi Akih, serta dua penyanyi Belanda lainnya, Mick Woearbanaran dan Justine Pelmelay.

 

Jazzindo Et Al. New Year’s Concert diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, dengan tujuan untuk mendorong peningkatan pemahaman tentang Indonesia, khususnya melalui musik modern atau non tradisional, dengan menampilkan bakat-bakat warga Indonesia maupun diaspora Indonesia. Lewat kegiatan ini, KBRI Den Haag ingin lebih memperkenalkan musik jazz Indonesia kepada masyarakat Belanda, selain mendukung diaspora Indonesia dan menjaga kesinambungan kerja antara KBRI Den Haag dengan para mitra kerja.

 

Usai sambutan pembukaan oleh Duta Besar, para hadirin dihibur dengan penampilan duo Boi Akih, sebuah kelompok musik yang berbasis di Amsterdam, yang memadukan musik tradisional dari Kepulauan Maluku, Bali, jazz Belanda (Eropa), musik improvisasi, musik India klasik dan musik tradisional Afrika. Gitaris Niels Brouwer dan vokalis Monica Akihary mempersembahkan sejumlah tembang karya mereka, diantaranya Mental Voyage dan When Evening Falls. Pada pertunjukannya, Monica Akihary juga menyanyikan lagu dalam bahasa Haruku, bahasa ibunya yang berasal dari Pulau Haruku di Maluku Tengah.   

 

Harry Mantong bersama Potatone Band tampil setelah Duo Boi Akih, membawakan lagu-lagu Indonesia dan Barat berirama jazz-pop, seperti lagu Inikah Cinta, Tersiksa Lagi dari Utha Likumahua (alm.), dan You are my everything milik penyanyi Indonesia, Glenn Fredly. Atase Pendidikan dan Kebudayaan juga turut memeriahkan acara dengan menyumbangkan sebuah lagu berjudul Widuri. Sebagai salam perpisahan dan ucapan terima kasih, anggota Persatuan Pelajar Indonesia di Belanda mempersembahkan lagu, “Terlalu Manis” dari bandrock Indonesia, Slank.

 

Setelah penampilan Harry Mantong dan Potatone Band, para tamu dipersilakan untuk menikmati makan malam, berupa hidangan khas Indonesia, seperti sup kimlo, gado-gado dan tongseng. Selain makanan utama, para tamu juga dapat menikmati makanan kecil singkong goreng dan wingko babat, serta minuman dari Indonesia, bir Bintang, yang cukup terkenal di Belanda. Sambil menikmati makan malam, para tamu dihibur oleh penampilan Nilam Sari, seorang diaspora Indonesia.

 

Sebagai puncak acara, penyanyi Belanda Justine Pelmelay tampil di panggung, membawakan sejumlah lagu dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Justine membuat suasana malam makin meriah dengan mengajak para hadirin menarikan poco-poco bersama, hingga acara Jazzindo Et Al. New Year’s Concert ditutup pada pukul 21.30.   

 

Acara yang berlangsung pada pukul 18.00 – 21.30 ini dihadiri sekitar 350 tamu undangan, terdiri atas mitra kerja KBRI di Belanda, kalangan diplomatik dan pers Belanda, diaspora Indonesia di Belanda serta pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda. Pergelaran Jazzindo Et Al. New Year’s Concert sekaligus untuk melepas tiga pejabat KBRI Den Haag yang akan segera mengakhiri masa tugasnya, yakni Minister Counsellor Fungsi Ekonomi, Andrei T. Marentek; Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Bambang Hari Wibisono; dan Atase Polisi, Yuda Gustawan.​